- SATLAK PBP
- SATLAK OPS PBP
PEMETAAN DAERAH RAWAN BENCANA
- Dasar
Keputusan Mendagri No. 131 Tahun 2003 tentang Pedoman Penanggulangan Bencana dan Pengungsi di Daerah.
Keputusan Presiden RI No. 111 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden RI No. 3 Tahun 2001 tentang Bakornas Penanggulangan Bencana dan Pengungsi.
Keputusan Bupati Lumajang No. 90 Tahun 2002 tentang Pembentukan Satlak PBP dan Satgas Ops PBP Kabupaten Lumajang.
Surat Badan Kesatuan Bangsa Propinsi Jawa Timur Nomor : 360/2867/212.5/2005 tanggal 23 September 2005 perihal Pemetaan Daerah Rawan Bencana.
Latar Belakang
Beberapa tahun ini, bencana alam secara beruntun telah menimpa hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Akibat yang ditimbulkan dari bencana sangat besar, baik dari korban jiwa, materi maupun kerusakan-kerusakan infra struktur lainnya. Tanah kecuali bencana alam juga dapat terjadi di Kabupaten Lumajang yang kondisi geografisnya beraneka ragam serta berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika adanya curah hujan yang tinggi di beberapa tempat serta adanya gunung berapi yang masih aktif.
- Tujuan Pemetaan
Untuk mengetahui kondisi daerah rawan bencana.
Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap adanya ancaman bencana.
Meningkatkan pemahaman tentang arti kesiapsiagaan secara dini terhadap adanya bencana.
Sebagai dasar pedoman penanganan pelaksanaan penanggulangan bencana.
Gambaran Umum Kabupaten Lumajang
- Letak Geografis
Kabupaten Lumajang terletak pada 112°53' - 113°23' Bujur Timur dan 7°54' - 8°23' Lintang Selatan. Luas wilayah keseluruhan Kabupaten Lumajang adalah 1790,90 km2. Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu : - Gunung Semeru (3.676 m) - Gunung Bromo (3.2952 m) - Gunung Lamongan (1.668 m)
Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang adalah sebagai berikut : - Sebelah barat : Kabupaten Malang - Sebelah utara : Kabupaten Probolinggo - Sebelah timur : Kabupaten Jember - Sebelah selatan : Samudera Indonesia
Luas Wilayah
Luas wilayah Kabupaten Lumajang adalah 1.790,90 kmē atau 3,74% dari luas Propinsi Jawa Timur. Luas tersebut terbagi dalam 21 Kecamatan yang meliputi 197 Desa dan 7 kelurahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Luas Wilayah Kabupaten Lumajang Per Kecamatan
| K E C A M A T A N |
LUAS (km2) |
JUMLAH DESA |
| Tempursari |
101,36 |
7 |
| Pronojiwo |
38,74 |
6 |
| Candipuro |
144,93 |
10 |
| Pasirian |
183,91 |
11 |
| Tempeh |
88,05 |
13 |
| Yosowilangun |
81,30 |
12 |
| Rowokangkung |
77,95 |
7 |
| Jatiroto |
77,06 |
5 |
| Randuagung |
103,41 |
12 |
| Pasrujambe |
97,30 |
7 |
| Senduro |
228,68 |
12 |
| Ranuyoso |
98,42 |
11 |
| Lumajang |
30,26 |
12 |
| Sumbersuko |
26,54 |
8 |
| Tekung |
30,40 |
8 |
| Kunir |
50,18 |
11 |
| Sukodono |
30,79 |
10 |
| Padang |
52,79 |
9 |
| Gucialit |
72,83 |
9 |
| Kedungjajang |
92,33 |
12 |
| Klakah |
83,67 |
12 |
| J U M L A H |
1.790,90 |
204 |
Topografi
Ketinggian daerah Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m dengan daerah yang terluas adalah pada ketinggian 100-500 m dari permukaan laut 63.405,50 Ha (35,40 %) dan yang tersempit adalah pada ketinggian 0-25 m dpl yaitu 19.722,45 Ha atau 11,01 % dari luas keseluruhan Kabupaten.
Geologi
Formasi geologi terdiri dari beberapa macam yaitu kuarter (Q), Mesozoikum (Mz), batuan beku dalam ultra basa (Pdt), Miosen bawah (L Mi), Sekis hablur (Pr), Mio Pliosen (Mi Pi), batuan beku dalam basa (Gb), Paleogen (Pg), batuan beku dalam asam kapur (K Gr).
Ditinjau dari segi batuan pembentuk struktur geologi wilayah, kawasan perencanaan terdiri dari jenis batuan Old Kwarter Vulkanik, Young Kwarter Vulkanik dan Alluvium. Pada umumnya Kabupaten Lumajang disusun oleh formasi batuan Alluvium (68.005,87 Ha) yang mencapai 38% dan terkecil Miosen Sedimentary 8% dari luas wilayah.
Jenis Tanah
Pembentukan jenis tanah dipengaruhi oleh iklim, bahan induk dan keadaan topografi. Berdasarkan Peta Tanah Tinjau yang dikeluarkan Lembaga Penelitian Bogor tahun 1966, jenis tanah di Kabupaten Lumajang terdiri dari aluvial, regosol, andosol, mediteran dan latosol.
Hidrologi
Keadaan hidrologi dan pengairan merupakan keadaan yang menggambarkan fisik tanah yang berhungungan dengan adanya genangan air, saluran irigasi, sungai dan danau. Dengan mengetahui keadaan tersebut akan dapat diketahui pemanfaatan tanah dan bagaimana cara pemanfaatnnya, yakni pada daerah yang banyak terdapat aliran sungai, penduduknya banyak memanfaatkan sungai sebagai sarana kehidupan rumah tangga sehari-hari.
Pada daerah yang banyak terdapat saluran irigasi berarti daerah tersebut telah memanfaatkan tanahnya untuk budidaya pertanian lahan basah. Pada daerah yang banyak terdapat alur sungai berarti daerah tersebut telah memnfaatkan air tersebut sebagai bahan baku air bersih.
Kemampuan Lahan
Kemampuan Lahan adalah salah satu aspek fisik yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rencana fisik karena menyangkut kemampuan efektif tanah dan kondisi hidrologi wilayah. Kemampuan jenis tanah adalah daya dukung tanah pada suatu wilayah apabila dilakukan pembudidayaan pada wilayah tersebut. Ada enam indikator kemampuan tanah yakni lereng/kemiringan tanah, kedalaman efektif tanah, tekstur tanah, drainase, tingkat erosi dan faktor pembatas yang dijelaskan sebagai berikut :
Kemiringan Tanah (Lereng)
Kemiringan tanah (lereng) merupakan sudut yang dibentuk oleh permukaan tanah dengan bidang horisontal. Kabupaten Lumajang seluas 179.090,00 Ha, berdasarkan klasifikasi lereng (kemiringan) adalah :
- Datar (0-2%) seluas 87.199,59 Ha (45,9%)
- Landai-agak miring (2-15%) seluas 1.459,57 Ha (17,57%)
- Miring-agak curam (15-40%) seluas 28.827,89 Ha (10,10%)
- Curam-sangat curam (lebih dari 90%) seluas 36.602,65 Ha
Drainase
Drainase adalah kemampuan permukaan tanah untuk merembeskan air secara alami atau cepat atau lambatnya air hilang dari permukaan tanah setelah hujan secara alami dan bukan karena perlakuan manusia. Berdasarkan pengertian tersebut, maka drainase diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas yakni tidak pernah tergenang, tergenang secara periodik dan tergenang terus-menerus.
Secara umum keadaan drainase di Kabupaten Lumajang cukup baik mengingat keadaan topografi yang bervariasi kemiringannya. Keadaan topografi di Kabupaten Lumajang yang bervariasi mulai datar sampai curam menguntungkan dari aspek ketergantungannya. Pengaturan air yang baik dan berfungsinya saluran pengairan, menyebabkan daerah tidak tergenang kecuali jika terjadi bencana alam.
Iklim dan Curah Hujan
Iklim adalah keadaan cuaca pada suatu tempat pada periode yang panjang. Iklim merupakan unsur yang mempengaruhi manusia dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Unsur-unsur yang sifatnya tertentu seperti temperatur, hujan, angin dan tekanan udara diamati sifatnya selama selang waktu yang panjang (30 tahun).
Di Kabupaten Lumajang penentuan iklim didasarkan sistem Shcmidt dan Ferguson. Sistem ini hanya membandingkan jumlah bulan basah dan bulan kering. Berdasarkan klasifikasi Shcmidt dan Ferguson terdapat tiga macam iklim di Kabupaten Lumajang. Tipe pertama adalah iklim tipe C, yaitu iklim yang bersifat agak basah. jumlah bulan kering rata-rata kurang dari tiga bulan dan buah-buahan lainnya adalah bulan basah dengan jumlah curah hujan bulanan lebih dari 100 mm.
Bulan-bulan kering tersebut rata-rata terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September, dan bulan-bulan lainnya adalah bulan basah.
Vulkanologi
Kabupaten Lumajang dikelilingi tiga gunung berapi yaitu Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Lamongan. Dari ketiga gunung berapi yang masih aktif tersebut, Gunung Semeru mendapat prioritas pemantauan lebih dibanding yang lainnya karena seringnya terjadi aktivitas gunung berapi yang membahayakan masyarakat sekitarnya.
Tabel Data Daerah Rawan Bencana
Langkah-Langkah Penanggulangan Bencana
Sumber data : BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KABUPATEN LUMAJANG
|